Senin, 28 November 2022

Bicara soal Privilege

Privilege akhir akhir ini menjadi pembicaraan khalayak ramai, netizen terbagi menjadi beberapa kubu kubu yang mendominasi adalah mereka yang tidak suka mendengarkan pengusaha muda yang berasal dari keluarga mapan kaya raya yang tentunya punya banyak hak istimewa sosial yang kita sebut privilege. memang betul mempunyai privilege menjadi hal yang menyenangkan dan mempermudah kehidupan kita. gambarannya mungkin disaat kebanyakan orang harus memulai dari tangga nomor 1, maka orang orang yang lahir dengan privilege dapat memulai starting point di tangga nomor 5 sehingga lebih cepat dan mudah menggapai tangga ke 20- kemudian lebih cepat menggapai tangga ke 100.

namun rupanya tidak semua orang yang lahir dengan privilege dapat menggunakannya dengan baik, contohnya seorang anak laki laki yang terlahir di keluarga kaya dan meneruskan bisnis keluarga mungkin bisa jadi belum ditempa mentalnya sehingga mudah jatuh dan bisa jadi menjadi miskin saat tidak dapat menggunakan privilegenya dengan baik. 

"tuan muda" yang jatuh miskin ini rupanya belum faham apa itu makna privilege yang sebenarnya, dan mungkin selama ini kita salah memaknai privilege, yang konon sinonimnya adalah koneksi, orang dalam, teman "ayah". makna lain mungkin bisa jadi literasi finansial yang dimiliki orang orang kaya, mindset dan sikap mengelola keuangan, prinsip dan mental baja pengusaha sukses, atau tujuan menjadi kaya raya yang mungkin saat ini kita masih mencari maknanya "mengapa aku ingin menjadi kaya?" 

Privilege yang bisa jadi luput dari perhatian adalah keterbatasan ilmu yang diajarkan oleh orang orang kaya, pengetahuan tentang mengelola keuangan yang hanya diajarkan kepada anak anak orang kaya yang tidak diajarkan di sekolah, bagaimana bisa pengajar yang (maaf) masih terbatas upahnya bicara soal mengelola kekayaan dan aset tanpa pernah merasakan bagaimana perasaan mendapatkan uang bermilyaran atau merugi dengan nominal serupa?